Asal Mula Nama “Bekasi”
Asal
nama Bekasi memiliki beragam versi yang berbeda-beda. Akan tetapi, ada sebuah
referensi yang dapat dijadikan sebagai rujukan, sebagaimana yang tertulis dalam
buku ”Riwayat Indonesia I”, karya Poerbatjaraka (seorang ahli bahasa Sansekerta
dan Jawa kuno).
Menurutnya,
kata “Bekasi” secara filologis,
berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti “bulan” (sama dengan kata sasih,
dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi, secara etimologis kata candrabhaga
berarti bagian dari bulan. Pelafalan kata Candrabhaga berubah
dengan makna sama menjadi sasihbhaga, kemudian menjadi Bhagasasih,
selanjutnya menjadi Bekasi hingga kini (sejarah DKI Jakarta, 1988:38).
Pada
perkembangannya, pelafalan kata Bhagasisi mengalami perubahan. Berbagai sumber
tertulis pada abad ke-18 sampai abad ke-21 menerangkan nama Bekasi dengan
tulisan Bakasie, Bekasjie, Bekasie,
dan terakhir Bekasi.
Nama
Candrabhaga diatas tidak terlepas dari keberadaan kerajaan Tarumannegara, yang
berdiri sejak abad ke-5 masehi, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Tugu, yang
ditemukan di daerah Cilingcing(DKI Jakarta). Prasasti ini merupakan yang
terpanjang dan banyak memuat keterangan mengenai kerajaan Tarumanegara dan
sungai Candrabhaga (Poerbatjaraka, 1952: 12-13). Kisah yang tertulis dalam
prasasti tugu ini berbunyi:
1. Pura Rajadhirajena
guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya
1.
Chandrabhagannavam yayau//
pravaddharmadvavincad-vatsare crigunaujasa
2.
Narendraavabbhunena (bhutena)
3.
Crimata purnnavarmmana// prarabya
phalgune(ne)
4.
Ayata shatsahasrena dhanusha(m)
sa-caten ca dvavincena nadi ramya gommati Nirmalosaka// pitamahasya
rajashervvidarya cibiravanim
5.
Brahmanai=r ggo-sahasrena (na)
prayati krtadakshino//
(vogel, J.Ph., 1962:63
Artinya:
Dahulu atas perintah Rajadiraja Paduka yang Mulia
Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja,
pada tahun ke dua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilkukan penggalian
di sungai Chandrabhagasetelah sungai itu melampaui ibu kota yang mahsyur dan
belum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai dari hari ke delapan bulan gelap
phalguna dan selesai pada hari ke tiga belas bulan terang bulan caitra, selama
dua puluh satu hari. Sluran baru dengan air jernih bernama sungai Gomati,
mengalir sepanjang 6.122 busur (tumbak) melampaui asrama pendeta raja yang
dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah
seribu ekor sapi (versi lain menyebutkan
melakukan penyembelihan 1.000 ekor sapi).
(Slamet Muljana, 1980:19)
Berdasarkan penelusuran Puoerbatjaraka, diduga bahwa
Bekasi merupakan salah satu pusatKerajaan Tarumanagara (Jakarta, 1988: 38).
Tulisan dalam prasasti di atas menggambarkan perintah Raja Purnawarman untuk
menggali Kali Chandrabhaga sampai ke Istananya. Penemuan Poerbatjaraka ini
masih sangat sederhana apabila dilihat dari tingakat validalitasnya pagi beberapa
kalangan ahli sejarah dan bahasa. Hal tersebut disebabkan lebih banyak
didasarkan pada kernangka filologi semata, interdisipliner. Akn tetapi, kajian
ini setidaknya menjadi bahan acun atau pedoman bagi penelusuran secara mendalam
mengenai asal muasal nama Bekasi, dan memiliki kontribusi yang cukup besar bagi
penelitian sejarah dan budaya Bekasi secara konfrehensif dan kronologis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar