Selasa, 26 November 2013

Asal Mula Nama “Bekasi”



Asal Mula Nama “Bekasi”
Asal nama Bekasi memiliki beragam versi yang berbeda-beda. Akan tetapi, ada sebuah referensi yang dapat dijadikan sebagai rujukan, sebagaimana yang tertulis dalam buku ”Riwayat Indonesia I”, karya Poerbatjaraka (seorang ahli bahasa Sansekerta dan Jawa kuno).
Menurutnya, kata “Bekasi” secara filologis, berasal dari kata Candrabhaga; Candra berarti “bulan” (sama dengan kata sasih, dalam bahasa Jawa Kuno) dan Bhaga berarti bagian. Jadi, secara etimologis kata candrabhaga berarti bagian dari bulan. Pelafalan kata Candrabhaga berubah dengan makna sama menjadi sasihbhaga, kemudian menjadi Bhagasasih, selanjutnya menjadi Bekasi hingga kini (sejarah DKI Jakarta, 1988:38).
Pada perkembangannya, pelafalan kata Bhagasisi mengalami perubahan. Berbagai sumber tertulis pada abad ke-18 sampai abad ke-21 menerangkan nama Bekasi dengan tulisan Bakasie, Bekasjie, Bekasie, dan terakhir Bekasi.
Nama Candrabhaga diatas tidak terlepas dari keberadaan kerajaan Tarumannegara, yang berdiri sejak abad ke-5 masehi, sebagaimana tertulis dalam Prasasti Tugu, yang ditemukan di daerah Cilingcing(DKI Jakarta). Prasasti ini merupakan yang terpanjang dan banyak memuat keterangan mengenai kerajaan Tarumanegara dan sungai Candrabhaga (Poerbatjaraka, 1952: 12-13). Kisah yang tertulis dalam prasasti tugu ini berbunyi:
1.      Pura Rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyatam purim prapya
1.         Chandrabhagannavam yayau// pravaddharmadvavincad-vatsare crigunaujasa
2.         Narendraavabbhunena (bhutena)
3.         Crimata purnnavarmmana// prarabya phalgune(ne)
4.         Ayata shatsahasrena dhanusha(m) sa-caten ca dvavincena nadi ramya gommati Nirmalosaka// pitamahasya rajashervvidarya cibiravanim
5.                                 Brahmanai=r ggo-sahasrena (na) prayati krtadakshino//
(vogel, J.Ph., 1962:63
 

1Menurut Soehadi, letak Candrabhaga ini berada di jalur sungai cakung, bahkan ia mengasosiasikan Candrabhaga dengan “sungai Cakung”. Kata “Cakung” berasal dari dua kata yaitu “Ca” dan “kung”. Kata “Ca” berasal dari kata “Cai” kemudian berubah menjadi “Ci”. Kata “kung” (bahasa Jawa Kuno) berarti rindu-dendam, atau mempunyai nafsu cinta. Jadi, ‘Cakung” berarti sungai yang mengandung cinta dan berhubungan dengan proses kesuburan. Sungai Chandrabhaga dibangun oleh raja Purnawarman sebagai upaya untuk meningkatkan hasil pertanian rakyatmakmur (Sagimun, 1988:34). Menurut Ali Anwar (2008) Chandrabhaga merupakan salah satu  kata dalam prasasti Tugu yang ditemukan di kampung Batu Tumbuh, Tugu, Kecamatan Cilingcing, Kabupaten bekasi ( sejak tahun 1970-an Cilingcing dimasukan kedalam wilayah Jakarta Utara). Karena Prasasti Tugu merupakan prasasti bertulis tertua di pulau jawa (abad ke-5 masehi), maka masyarakat Bekasi dan sekitarnya merupakan masyarakat pertama di pulau Jawa yang telah mengenal huruf dan membaca. Selain Prasasti Tugu, Tarumanegara juga menerakan jejaknya pada Prasasti Ciaruteun, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Jambu, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Cidanghiang. Para arkeolog terus melakukan penelitian untuk “menghidupkan” kembali Tarumanagara. Rupanya, kerajaan Tarumanagara merupakan puncak peradaban masyarakat Bekasi., karawang, jakarta, Bogor, bahkan sebagian  Jawa Barat dan Banten.
         Sementara itu, akar peradaban Bekasi berlangsung sejak 1000 tahun Sebelum Masehi pada jaman Neolitikum dan Paleometalik. Buktinya, pada 1960-an di Kampung Buni Pendayakan. Desa Buni Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, ditemukan berbagai peralatan hidup masa 2000 tahun silam., seperti beliung persegi, manik-manik, perhiasan emas, periuk, piring, kendi, dan piring arekamedu. Para arkeolog dunia menjulukinya sebagai Situs Buni, sedangkan masyarakat mengabadikan penemuan emas yang menghebohkan itu dalam bentuk nama jalan, yakni jalan Pasar Emas. Sejarah terus terkuak. Ternyata sekitar 30 kilometer ke arah timur dari situs Buni atau 40 kilometer dari Prasasti Tugu, di desa Btu Jaya, Kabupaten Karawang, arkeolog menemukan komplek percandian Tarumanagara seluas 150 hektar.
Artinya:
Dahulu atas perintah Rajadiraja Paduka yang Mulia Purnawarman, yang menonjol dalam kebahagiaan dan jasanya di atas para raja, pada tahun ke dua puluh dua pemerintahannya yang gemilang, dilkukan penggalian di sungai Chandrabhagasetelah sungai itu melampaui ibu kota yang mahsyur dan belum masuk ke laut. Penggalian itu dimulai dari hari ke delapan bulan gelap phalguna dan selesai pada hari ke tiga belas bulan terang bulan caitra, selama dua puluh satu hari. Sluran baru dengan air jernih bernama sungai Gomati, mengalir sepanjang 6.122 busur (tumbak) melampaui asrama pendeta raja yang dipepundi sebagai leluhur bersama para brahmana. Para pendeta itu diberi hadiah seribu ekor sapi (versi lain menyebutkan melakukan penyembelihan 1.000 ekor sapi).
                (Slamet Muljana, 1980:19)
Berdasarkan penelusuran Puoerbatjaraka, diduga bahwa Bekasi merupakan salah satu pusatKerajaan Tarumanagara (Jakarta, 1988: 38). Tulisan dalam prasasti di atas menggambarkan perintah Raja Purnawarman untuk menggali Kali Chandrabhaga sampai ke Istananya. Penemuan Poerbatjaraka ini masih sangat sederhana apabila dilihat dari tingakat validalitasnya pagi beberapa kalangan ahli sejarah dan bahasa. Hal tersebut disebabkan lebih banyak didasarkan pada kernangka filologi semata, interdisipliner. Akn tetapi, kajian ini setidaknya menjadi bahan acun atau pedoman bagi penelusuran secara mendalam mengenai asal muasal nama Bekasi, dan memiliki kontribusi yang cukup besar bagi penelitian sejarah dan budaya Bekasi secara konfrehensif dan kronologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar