PEREKONOMIAN INDONESIA
1. LATAR
BELAKANG
Belakangan
ini pembangunan ekonomi di Indonesia
memang tidak stabil ini semua dipengaruhi banyak factor. Selama hampir setengah
abad, perhatian utama masyarakat perekonomian dunia tertuju pada cara-cara
untuk mempercepat tingkat pertumbuhan pendapatan nasional. Para ekonomi dan
politisi dari semua negara, baik negara-negara kaya maupun miskin, yang
menganut sistem kapitalis, sosialis maupun campuran, semuanya sangat
mendambakan dan menomorsatukan pembangunan ekonomi.
Selama
ini kita berfikir kalau perusahaan
didirikan hanya untuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya tapi ternyata
perusahaan mempunyai manfaat lain yang sangat penting bagi kehidupan
sekitar.seperti kita lihat disekitar kita selama ini. Adanya perusahaan secara
tidak langsung juga berpengaruh pada
masyarakat disekitarnya,seperti daerah perkotaan contohnya Jakarta di sana
banyak didirikan perusahaan tentunya
juga membutuhkan adanya tenaga kerja masyarakat sekitar tentu akan mendapat
keuntungan dengan adanya lowongan tersebut.Bukan hanya itu saja sarana
transportasi,fasilitas-fasilitas umum semuanya ada karena adanya kebutuhan para
pekerja perusahaan tersebut.
2.
PENDAHULUAN
Bisnis
tak selamanya harus berbau yang besar . bisnis juga tidak hanya berbentuk jasa
tetapi juga ada yang berbentuk dagang . mungkin di jaman seperti ini tak banyak
yang ingin berbisnis dikarenakan modal yang besar dan resiko yang takut untuk
dihadapi . tetapi sekarang tak perlu takut karna bisnis dapat berjalan dengan
modal yang tak banyak dan dapat bersaing di masyarakat dan yang terdapat di
kota-kota besar maupun kota-kota kecil yang mudah dijangkau oleh anda sebagai
konsumen. Salah satu bisnis yang akan saya bahas adalah jenis bisnis ritail
yang dimana sebuah binis yang jenisnya berjualan atau berdagang tetapi dalam
konteks kecil atau dapat dibeli secara eceran . selain itu bisnis rital ini
dapat dijangkau oleh anda karena letak atau jarak yang cukup strategis . Kini di kabupaten atau kota bahkan desa di Indonesia,
“bisnis retail” mulai banyak dilirik kalangan pengusaha, sebab memiliki
pengaruh positif terhadap jumlah lapangan pekerjaan dan keuntungannya yang
menjanjikan, dengan sistem pemasaran format self service, yaitu konsumen
membayar di kasir yang telah disediakan. Adanya sentuhan teknologi, yang
terintegrasi pada perangkat lunak (software), memudahkan pencatatan dengan
menggunakan komputer, baik itu pencatatan aktifitas dan transaksi dari
administrator, kasir, kepala gudang dan lain sebagainya, membuat manajemen atau
pengelolaannya rapi dan terkontrol serta laporan transaksi dapat di evaluasi
setiap bulannya. Dari aspek sosialnya, menciptakan budaya baru dalam
berbelanja, yaitu adanya atmosfer berbelanja yang lebih bersih dan nyaman.
3.
PEMBAHASAN
Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang
paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah.
Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja
keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya
untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi
pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai
peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan orang
banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui banyak bagaimana proses
kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai kemampuan
mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi
kebutuhan itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian
berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah.
Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar
perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.
Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan
pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi
penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat
memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang
diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan
mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan
daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta menciptakan
peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi
daerah.
3.1 Pengertian
bisnis ritail
Bisnis ritail adalah usaha
penjualan sejumlah komoditi kepada konsumen. Usaha ini berasal dari bahasa
perancis “ retailer” yang berarti memotong menjadi kecil-kecil, dengan kata
lain bisnis ritail merupakan usaha secara langsung mengarahkan pemasaran
komoitas untuk memuaskan konsumen, serta memenuhi kebutuhan konsumen berasarkan
organisasi penjualan barang dan jasa yang menjadi intinya.
3.2
Karakteristik
dasar rital
Karakteristk
dsar ritail dapat dipergunakan sebagai dasar mengelompokkan jenis ritail .
terdapat tiga karakteristk dasar yaitu :
a.
Pengelompokkan
berdasarkan unsur-unsur yang digunakan ritail untuk memuaskan kebutuhan
konsumen Maksudnya disini kita mengelompokkan unsur-unsur yang digunakan ritail
untuk memuaskan kebutuhan konsumen dengan mengadakan semua kebutuhan yang
dibutuhkan oleh konsumen . misalnya seperti produk-produk makanan , peralatan
kecantkan , buku-buku dan lain sebagainya
b.
Pengelompokan
berdasarkan sarana atau media yang digunakan Maksudnya pengelompokan
berdasarkan sarana atau media yang digunakan . kita dapat memperkenalkan oleh
masyarakat luas dengan mempromosikan bisnis ritail kita dengan media . misalnya
televise . dengan cara seperti ini cukup ampuh agar usaha bisnis ritail kita
dikenal dan diketahui oleh masyarakat luas . selain itu kita apat memberikan
diskon untuk menarik konsumen .
c.
Pengelompokan
berdasarkan kepemilikan .Bisnis ritail ini dapat dilakukan dengan pngelompokan
maupun perorangan . ada yang memiliki nama yang sama tetapi memiliki pemilik
atau pemodal yang berbeda sesuai kelas-kelasnya.
3.3 Fungsi Retail
Rital
memiliki beberapa fungsi diantaranya sebagai berkut :
a.
Ritel merupakan tahap akhir proses distribusi
dengan dilakukannya penjualan langsung pada konsumen akhir.
b.
bisnis retail berfungsi sebagai
perantara antara distributor dengan konsumen akhir, Retailer berperan sebagai
penghimpun barang, took retail sebagai tempat rujukan.
c.
Ritail berperan sebagai penentu eksistensi
barang dari manufacture di pasar konsumsi.
d.
Membeli dan menyimpan barang.
e.
Memindahkan hak milik barang tersebut kepada konsumen
akhir.
f.
Memberikan informasi mengenai sifat dasar dan pemakaian
barang tersebut.
g.
Memberikan kredit kepada konsumen (dalam kasus tertentu).
3.4
Keuntungan Bisnis Ritail
Salah
satu kemudahan dan keuntungannya dalam membuka mini market yaitu hanya
menyiapkan lahan dan bangunan dengan kesepakatan lahan dan bangunan tersebut di
sewa selama 20 tahun oleh pemilik “bisnis retail”, kemudian akan menjadi hak
sepenuhnya dari pemilik lahan dan bangunan. Luas lahan yang perlu disiapkan pun
tidak begitu luas, Maksimumnya 400m2. Bahkan yang menariknya lagi orang bisa
berbelanja secara online. Pilihan produk bisnisnya pun terus mengalami
spesialisasi, misalnya mini market khusus produk peralatan listrik.
3.5
Pembeda Modern & Traditional retailer
1. Open
Display (display terbuka barang bisa
disentuh konsumen)
2. Fixed
Price (harga tetap tidak perlu tawar
menawar)
3. Self
Service (konsumen melayani dirinya sendiri)
3.6 Kenapa outlet modern lebih menarik dan
berkembang
• Pasar modern yang banyak tumbuh dan berkembang di tempat yang strategis mudah dijangkau oleh sarana transportasi
• Banyak pilihan barang
• Ada kepastian harga
• Kualitas lebih terjamin
• Tempat sejuk,bersih,nyaman.
• Pelayanan lebih baik
• Bisa rekreasi atau Window shoping, dll
• Pasar modern yang banyak tumbuh dan berkembang di tempat yang strategis mudah dijangkau oleh sarana transportasi
• Banyak pilihan barang
• Ada kepastian harga
• Kualitas lebih terjamin
• Tempat sejuk,bersih,nyaman.
• Pelayanan lebih baik
• Bisa rekreasi atau Window shoping, dll
3.7 Kenapa pasar tradisional makin kecil market
sharenya
• Pasar modern terus tumbuh bahkan sampai ke kota kecamatan.
• Pasar tradisional mempunyai kesan kumuh.
• Dagangan yang bersifat makanan siap saji mempunyai kesan kurang higienis.
• Kurang ada kepastian harga.
• Kurang bergengsi
• Kurang nyaman
• Pasar modern terus tumbuh bahkan sampai ke kota kecamatan.
• Pasar tradisional mempunyai kesan kumuh.
• Dagangan yang bersifat makanan siap saji mempunyai kesan kurang higienis.
• Kurang ada kepastian harga.
• Kurang bergengsi
• Kurang nyaman
3.8 Keunggulan Perdagangan Ritel
Perdagangan ritel merupakan jenis usaha yang
paling banyak dijalankan orang. Dari warung rokok pinggir jalan, warung
kelontong yang dibuka di teras rumah, mini market, hingga hypermarket merupakan
jenis bisnis ritel yang serung kita temukan. Selain mudah dijalankan, bisnis ritel
juga serung dijadikan sebagai bisnis sampingan untuk membantu menigkatkan
pendapatan keluarga. Seperti toko atau warung kelontong yang dibuka diteras
rumah bisa dijalankan . begitu juga dengan modal yang diperlukan, juga bias
disesuaikan dengan skala bisnis ritel yang akan dijalankan. Bila modalnya
terbatas, kita dapat membuka bisnis ritel dengan jumlah barang terbatas serta
konsumen yang terbatas pula. Namun ketika berkembang, usaha ini pun terbuka
peluangnya untuk berkembang menjadi usaha ritel dengan skala menengah.
Ritel modern di Indonesia memang memberikan
beberapa manfaat, namun keberadaannya juga menuai banyak persoalan. Pertama,
keberadaan ritel modern terbukti mematikan warung-warung tradisional terutama
terkait dengan trend pergeseran kebiasaan konsumen di atas. Data dari Asosiasi
Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menunjukkan jumlah pedagang pasar
tradisional di wilayah DKI Jakarta mengalami penurunan dari 96.000 orang
menjadi 76.000 pedagang. APPSI juga menyebutkan bahwa sekitar 400 toko di pasar
tradisional tutup setiap tahunnya.
3.8
salah satu contoh bisnis ritail yaitu : “Alfamidi”
Mungkin bagi Anda yang tinggal di
Jakarta dan Surabaya sudah pernah melihat beberapa gerai Alfamidi, sekilas
gerainya seperti punya grup usahanya Alfamart mirip secara warna dan tulisan
serta setting layoutnya, sehingga tidaklah salah kalau anda kira Alfamidi
merupakan grupnya Alfamart. Mungkin kita pikir ini untuk segmen yang berbeda.
Ternyata Alfamidi tidak ada hubungannya dengan Alfamart. Alfamidi ternyata
dikelola oleh PT Midi Utama Indonesia. kabarnya sampai akhir 2008 secara
nasional ditargetkan akan ada 60 gerai dengan rincian 50 di jakarta dan sisanya
di kota lain. di surabaya sendiri sudah ada 4 gerai Alfamidi yang dibuka. awal
2009 rencananya akan dibuka 10 gerai di Bali. Komposisi isi gerai adalah 60%
produk food, 20% non-food, dan 20% adah frozen stuff.
Mungkin ada hal baru yang berbeda dengan Alfamart dan Indomaret, yaitu Alfamidi menyediakan frozen food seperti daging segar serta sayuran dan buah segar lebih banyak. Alfamart dan Indomaret tidak menjual sayuran segar dan daging serta ayam frozen.
Ini merupakan jaringan ritel kelas mini market pertama yang menggarap segmen tersebut, namun untuk main di segmen itu memang tidaklah mudah karena memiliki faktor resiko yang lebih besar dari menjual makanan olahan siap saji.
Tingginya daya beli masyarakat membuat peluang bisnis ritel di Indonesia masih terbuka lebar. PT Midi Utama Indonesia, pengelola ritel Alfamidi, menangkap peluang itu dengan memperluas pangsa pasar di Jatim. President Director PT Midi Utama Indonesia Rullyanto mengatakan, sampai akhir 2008, secara nasional ditargetkan tersedia 60 gerai Alfamidi, dengan rincian 50 gerai di Jakarta dan sisanya di Surabaya. Target akumulasi omzet Rp 1miliar per gerai. Kini di Jakarta baru ada 20 gerai dan di Surabaya empat gerai. Setelah 60 gerai terpenuhi, ke depan Alfamidi bisa diwaralabakan, ujar Rully, Empat gerai itu pertama yang buka di Surabaya terletak di Darmo Satelit, Perak, Pasar Kembang dan Tidar menyusul di kawasan Demak, Kalijaten, Ciliwung dan Cemengkalang Sidoarjo. Setelah peresmian gerai di Surabaya, awal 2009 Alfamidi merambah Bali dengan target 10 gerai. Menyambut Lebaran ini, kata Rully, Alfamidi hadir dengan kelengkapan stok dan tampilan barang yang lebih menarik daripada peritel lain. Meski pemain baru dalam bisnis ritel, kami optimistis target omzet Rp 50 juta per hari akan langsung terpenuhi di hari pertama. Karena konsumen masih penasaran dengan kehadiran ritel ini, ujarnya. Ia telah menyiapkan strategi khusus agar omzet harian tetap teraih. Dengan meningkatkan profesionalitas kinerja dan menjaga agar stok produk tidak kosong. Mengenai strategi menghadapi persaingan bisnis ritel lain, Rully meyakini gerainya tetap akan dipenuhi konsumen. Karena ia selalu menghadirkan produk yang tersedia di minimarket dan supermarket. “Stok produk minimal 7.000 item terdiri dari, 60 persen produk makanan, 20 persen nonmakanan, dan 20 produk segar,” kata Rully. Ia menjamin, harga jual produk nonmakanan di gerainya lebih rendah 5 persen dibanding harga pasar. Menurut Ketua DPD Aprindo Jatim Abraham Ibnu, kehadiran peritel baru di semester II 2008 ini dapat menumbuhkan penjualan minimarket 8,9 persen dibandingkan periode sama 2007. Rata-rata penjualan tiap gerai sekitar Rp 20 juta-50 juta per hari. Wakil Ketua Umum DPP Aprindo Pujianto menambahkan, bisnis ritel di Indonesia memang prospektif. Buktinya, pertumbuhan bisnis ritel moderen anggota Aprindo secara nasional naik 15 persen dibandingkan 2007 sejumlah 8.000 outlet. Sementara, Ketua Harian DPP Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, pertumbuhan bisnis ritel moderen dan pasar tradisional bisa seiring sejalan. Meski ritel moderen bisa menjangkau pasar di daerah pemukiman, bisnis itu tidakakan memakan jatah konsumen dari pasar tradisional, katanya.
Mungkin ada hal baru yang berbeda dengan Alfamart dan Indomaret, yaitu Alfamidi menyediakan frozen food seperti daging segar serta sayuran dan buah segar lebih banyak. Alfamart dan Indomaret tidak menjual sayuran segar dan daging serta ayam frozen.
Ini merupakan jaringan ritel kelas mini market pertama yang menggarap segmen tersebut, namun untuk main di segmen itu memang tidaklah mudah karena memiliki faktor resiko yang lebih besar dari menjual makanan olahan siap saji.
Tingginya daya beli masyarakat membuat peluang bisnis ritel di Indonesia masih terbuka lebar. PT Midi Utama Indonesia, pengelola ritel Alfamidi, menangkap peluang itu dengan memperluas pangsa pasar di Jatim. President Director PT Midi Utama Indonesia Rullyanto mengatakan, sampai akhir 2008, secara nasional ditargetkan tersedia 60 gerai Alfamidi, dengan rincian 50 gerai di Jakarta dan sisanya di Surabaya. Target akumulasi omzet Rp 1miliar per gerai. Kini di Jakarta baru ada 20 gerai dan di Surabaya empat gerai. Setelah 60 gerai terpenuhi, ke depan Alfamidi bisa diwaralabakan, ujar Rully, Empat gerai itu pertama yang buka di Surabaya terletak di Darmo Satelit, Perak, Pasar Kembang dan Tidar menyusul di kawasan Demak, Kalijaten, Ciliwung dan Cemengkalang Sidoarjo. Setelah peresmian gerai di Surabaya, awal 2009 Alfamidi merambah Bali dengan target 10 gerai. Menyambut Lebaran ini, kata Rully, Alfamidi hadir dengan kelengkapan stok dan tampilan barang yang lebih menarik daripada peritel lain. Meski pemain baru dalam bisnis ritel, kami optimistis target omzet Rp 50 juta per hari akan langsung terpenuhi di hari pertama. Karena konsumen masih penasaran dengan kehadiran ritel ini, ujarnya. Ia telah menyiapkan strategi khusus agar omzet harian tetap teraih. Dengan meningkatkan profesionalitas kinerja dan menjaga agar stok produk tidak kosong. Mengenai strategi menghadapi persaingan bisnis ritel lain, Rully meyakini gerainya tetap akan dipenuhi konsumen. Karena ia selalu menghadirkan produk yang tersedia di minimarket dan supermarket. “Stok produk minimal 7.000 item terdiri dari, 60 persen produk makanan, 20 persen nonmakanan, dan 20 produk segar,” kata Rully. Ia menjamin, harga jual produk nonmakanan di gerainya lebih rendah 5 persen dibanding harga pasar. Menurut Ketua DPD Aprindo Jatim Abraham Ibnu, kehadiran peritel baru di semester II 2008 ini dapat menumbuhkan penjualan minimarket 8,9 persen dibandingkan periode sama 2007. Rata-rata penjualan tiap gerai sekitar Rp 20 juta-50 juta per hari. Wakil Ketua Umum DPP Aprindo Pujianto menambahkan, bisnis ritel di Indonesia memang prospektif. Buktinya, pertumbuhan bisnis ritel moderen anggota Aprindo secara nasional naik 15 persen dibandingkan 2007 sejumlah 8.000 outlet. Sementara, Ketua Harian DPP Aprindo Tutum Rahanta mengatakan, pertumbuhan bisnis ritel moderen dan pasar tradisional bisa seiring sejalan. Meski ritel moderen bisa menjangkau pasar di daerah pemukiman, bisnis itu tidakakan memakan jatah konsumen dari pasar tradisional, katanya.
4.
KESIMPULAN
Bisnis ritail adalaha jenis bisnis
yang menjanjikan , jenis bisnis ini dapat bertahan dan berkembang pesat di
masyarakat luas dengan cepat . banyak keuntungan dari binis ritail ini salah
satunya dapat menjadi lapangan pekerjaan bagi orang yang membutuhkannya ,
dengan adanya bisnis ritail ini kita dapat mendapatkan barang atau kebutuhan
yang kita butuhkan dengan cepat dan mudah dan tidak perlu membeli dalam jumlah
yang banyak cukup dengan jumlah yang dibutuhkan oleh anada sendiri . kita dapat
membuka usaha binis ritail ini bukan hanya di jkota besar namun didaerah-daerah
sudah ada.
5.
DAFTAR ISI
1.
LATAR
BELAKANG…………………………………………………………..
2.
PENDAHULUAN………………………………………………………………
3.
PEMBAHASAN………………………………………………………………...
3.1
PENGERTIAN BISNIS
RITAIL…………………………………………..
3.2
KARAKTERISTIK DASAR
RITAIL……………………………………...
3.3
FUNGSI RITAIL……………………………………………………………
3.4
KEUNTUNGAN BISNIS
RITAIL………………………………………...
3.5
PERBEDAAN RETAIL MODERN DAN TRADISIONAL……………..
3.6
OTLET MODERN LEBIH BEERKEMBANG
DIBANDING TRADISIONAL
3.7
TRADISIONAL LEBIH MINIM
SHARENYA…………………………
3.8
CONTOH BISNIS
RITAIL………………………………………………..
4.
KESIMPULAN………………………………………………………………….
5.
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………….
6.
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………
6. DARTAR PUSTAKA
1. http://
blogspot.com/2013/09/perkembangan-bisnis-retail-indonesia.html olpage.
2. http://heylookatmee.blogspot.com/2012/03/makalah-kedudukan-perusahaan-dalam.html